Bunga Tak layu
SEMESTA BERKABUNG
Hari ini tepat diantara rerunputan yang sedang goyah kesana kemari, sepertinya dia sedang kalut dan juga sepertinya menari, menurutku dia akan berpesan melalui angin. Tapi rumput itu hanya mengikuti arah datangnya angin dan kemana sang pemberi dan sang punya kemauan itulah rumput dan angin, tapi aku tak ingin memandangnya seperti itu. Hingga tetes pertama dari atas ketinggian, tetesan pertama menyapa rumput yang menari, itulah jawabannya, sepertinya semesta akan berkabung karena jatuhnya pelan dan rintik sekali , tarian rumput terus bergoyang dan langit meneteskan air hujan semakin rintik hingga butiran air itu menembus partikel tanah, menggenangi kerasnya batuan, mengalir diantara kerikil seolah kerikil telah membuka celah dan putaran bumi dalam rotasinya yang berirama dan khusyu menambah aliran itu, hingga air hujan masuk kedalam tanah yang dalam nan jauh hingga tak terlintas, membasuh jagad didalamnya. Sementara Rumput terus bergoyang, menari tak beraturan tak seperti hidup tanpa irama, tetapi sangat nyata di altar bumi yang sedang berotasi. Putaran itu sangat terasa bilamana kenangan itu datang, disana aku berdiri tegar kerena terasa sekali, hingga mereka selesai aku tetap disitu, saat sunyipun tak kemana-mana, oleh karena temanku sedang berkabung.
MELAMBAT UNTUK MERENUNG
Orang itu mulai memperlambat ayunan pedal sepeda, tak kala dia melewati genangan licin tentunya, saat mencapai rumput, orang ini mulai berjalan dan sepeda disamping , berjalan diatas rumput yang sedang terbasuh air langit yang turun secara diam-diam dan pelan, rintik jadinya, mobil yang sebelumnya melaju juga ikut melambat, oleh terlebih dahulu banyak pengendara yang melambat tetapi tidak macet. Seperti irama alam yang sedang menghargai orang tua yang naik sepeda layaknya dia menghargai rumput muda dan tua yang masih hijau berseri dan sedang menerima hujan dari atas, dan layaknya hujan yang sedang menemani anak kecil yang menangis disudut kamar dimana ibunya terbaring untuk terakhir kalinya ditempat tidur. Kadang kala kita diharuskan dan harus melambat, kesedihan terkadang datang begitu cepat dan kadang kala kegembiraan pergi begitu cepat. Hujan terus turun, diatap rumbai yang sempit dan dibawahnya banyak orang sementara berteduh dan merenung menunggu hujan reda.
menyambung energi
BERSERAH DAN TERSERAH
Ketika kupandangi awan yang bergerak cepat , lebih cepat dari biasanya tapi tidak secepat keinginanku, angin sepertinya telah menghapus derita dan pilu manusia. Berpaling dan melihat waktu tapi hampir seluruh kejadian itu tak bisa kusaksikan. Pilu dan derita yang hilang, telah menghilangkan kesempatan diri ini untuk berjalan dengan rasah hormat diatas bumi sebagai satu mahluk kecil yang bernyawa. Tak ada kata selain berserah.
Kala padi tengah menguning layaknya kuningnya telur yang belum tersentuh minyak, saat itu sekumpulan kawan telah datang di tempat biasa, dibawah pohon bambu yang manaungi anak muda yang sedang semangat beserta dengan wanita tua berjilbab kuning penjual makanan dan aku berkata ‘ terserah kalian mau makan apa saja’.
mendayung bersama
HARAPAN DI SEMESTER 14
Tak ada yang berkeinginan untuk sampai disemester 14, dan tak ada yang menganjurkan berada di semester 14, dan tak akan pernah mengharapkan anaknya mencapai semester itu, paling lama mungkin semester 12. 14 adalah semester terakhir, walau seperti itu temanku masih berjalan disana, terus belajar seperti semester 1 walau terkadang dia sangat giat sehingga harapan itu muncul di semester 14, bersama dengan kawan yang lain yang juga semangat untuk mengakhirinya, saat itu aku juga berada disana menemaninya sesekali disemester 14 dan berdiri di belakang tak kala semangat itu patah, dan berdiri disamping ketika jalan itu lebar dan bercabang, dan tak pernah didepan karena aku tahu kalian sanggup , ,,,,,,...selamat berjuang kawan akhiri semester 14